YA ALLAH…

July 7th, 2008 by myftha

   

Ya ALLAH… Dalam perjalanan langkah yang belum terhenti ini, jalan selangkah yang lalu, penuh dosa dan noda…. Bersilih ganti, antara godaan dan keinsafan… Layakkah aku dalam rahmat-MU… di bawah lembayung rahmat-MU. Walau seringkali godaan memburu. Seringkali itu juga seribu keinsafan berbisik di hati.
   
    Wahai Tuhanku… ku merayu di malam hari, Menagih ampunan dan kasih sayang-MU. Wahai Tuhanku, rayuanku… terimalah daku kembali… sebagai hamba-MU yang dalam lindungan-MU setiap saat masa yang berlalu… Walau seribu yang memberikanku kasih, tidak kan sama dengan kasih sayang-MU…

    Ya ALLAH… Ya Rabbi… dengarlah rayuanku sayup-sayup berbisik di malam yang hening… Bertemankan cahaya bulan, sinaran bintang yang memancar… Mengharapkan doaku bertaut dalam restu-MU…

    Wahai Tuhanku… pencipta kasih sayang… Yang memiliki setiap hati. Kasih sayang yang luhur buat hamba-MU. Ya Rahman… Ya Rahim…, ku sadari cinta manusia tak sampai setitis dari selautan cinta-MU…

    Ya Rahman… Rayuanku, janganlah kasih yang tak berarti di dalam hati ini. Mealalaikan daku dari mengingat-MU… pautkanlah daku pada cinta dan rahmat-MU agar daku tidak tenggelam dengan fitnah dam ujian duniawi. Ampunilah dosa-dosaku Ya ALLAH…. :’(

mY 1St JoB

July 2nd, 2008 by myftha

My 1st job??!! he3… can mention like that…

Tapi drpd ngganggur… Hmmm…. Hidup kan penuh perjuangan.

Pinter2 juga ngambil kesempatan.

Mudah2an bisa berjalan dengan baik.

Mudah2an juga bisa jadi awal yang baik…

Amiiin……. ^_^

Alone Again…

July 2nd, 2008 by myftha

Alone again…
Pengennya berdua. Kata Acha khan Berdua lebih baik… he3
tapi gimana dunk… Kali udah jalannya gitu…
Ya… sabar2 aja lah… suatu saat juga ketemu.
Kata orang2 siy, udah ada tapi belom ketemu aja, he3.
tapi capek juga yah… stiap kali harus lossing again…
Selalu bikin sedih kalo kayak gini.
Eh, ga cuma sedih dink, ada marahnya, ada kecewanya, ada nyeselnya.
Pokoknya campur aduk jadi 1, kayak adonan kue gitu, he3.
tapi pasrah, ikhlas, n positive thingking aja sama Allah… Pasti semua ada waktunya.
Allah kan ga mungkin nyia2in makhluk_Nya. Iya khan?! ^_^

Surat Cinta Terbuka

November 27th, 2007 by myftha

Sahabat,
Semoga Allah Sang kekasih sejati senantiasa memayungimu dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya limpahan cinta-Nya kepada segenap makhluk begitu melimpah…tiada batas. Oleh karena itu, letakkan jemari pada jantungmu, rasakan degubnya setiap waktu. Adakah asma-Nya berdegub bersama aliran darahmu? Ia telah melukis kuasa-Nya pada wajahmu sehingga tercipta sebaik-baiknya rupa. Letakkan jemari pada hatimu dan akalmu, rasakan pelita ilmu dan hikmah yang menyala setiap waktu sehingga tercipta dunia yang indah tiada tara.

Siapakah Ia Sang Pencipta? Yang telah meletakkan jantung hati dalam rongganya dan meniupkan ruh-Nya.

Siapakah Ia Sang Pencipta? Yang telah meletakkan hikmah dan ilmu dalam wadahnya dan meniupkan cahaya-Nya.

Ia sungguh tak terbandingkan dengan seseorang yang kau letakkan padanya cinta sematimu.

Ia sungguh tak tertandingi dengan seseorang yang telah merampas rindumu setiap waktu.

Resapilah salah satu nasyid Raihan ini,

Hatiku merayu rindu..

Kasihku pada-Mu syahdu..

Munajat hamba pada-Mu

Mengharap kasih saying-Mu.

Apakah yang mengalir dalam nadimu saat menyandingkannya dengan-Nya? Degub nafsu dan keinginan meluap untuk memiliki, untuk menguasai, sepenuh-penuhnya.

Sahabat,

Cinta pada selain-Nya adalah semu belaka. Seperti fatamorgana.
Benarkah ia sepenuhnya mencintaimu?
Menerimamu apa adanya?
Mendambamu walau engkau mengecewakannya?
Benarkah cintanya setinggi gunung Fujiyama sehingga untuk mendapatkan balas kasihmu, lautan berapi rela ia sebrangi? Benarkah janji-janjinya, bahwa ia ingin tetap berada di sisimu apapun yang akan terjadi, meskipun kerentaan telah mendatangimu, meskipun topaan badai menghadangmu walau kan senantiasa menyakitinya?

Tentu tidak. Sebab ia sebagaimana dirimu, hanya menginginkan jasad dan duniamu belaka. Ia hanya menginginkan sepenggal kesemuan yang terpancar indah dari ragamu. Percayalah semua itu hanya angan belaka!

Adakah cinta sejati ada padamu dan dia tanpa karunia dari-Nya? Tentu tidak. Sebab cinta sejati adalah cinta dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Cinta sejati adalah menyatukan rasa dalam syari’atnya

Percayakah engkau bahwa Ia selalu menatap kita penuh cinta walau kita tak sedetikpun bersujud kepada-Nya.
Sesungguhnya kegembiraan-Nya menyambut seorang hamba yang bertaubat, lebih marak rasa yang terpancar dari seorang pengembara yang menemukan kembali keledai dan perbekalannya, sementara ia dalam kondisi letih, lapar dan mengantuk. Selangkah kita mendekat pada-Nya, seribu langkah Ia mendekat pada kita.
Subhanallah…

Sahabat,
Inilah janji-Nya pada kita makhluknya:
“Wahai anak adam, kenapa engkau tidak memperhatikan Aku? Tahukah engkau bahwa engkau berada dalam pengawasan mata-Ku dalam kesepianmu, dan kala nafsumu bergejolak. Ingatlah Aku dan mintalah kepada-Ku agar Aku cabut nafsu itu dari hatimu dan Aku pelihara engkau dari berbuat maksiat kepada-Ku dan Aku jadikan engkau benci kepada perbuatan itu. Akan aku mudahkan engkau mentaati-Ku. Akan Aku jadikan engkau cinta kepada ketaatan itu serta Aku jadikan dia indah dalam pandanganmu.

Wahai anak adam, Aku hanya menyuruhmu agar supaya engkau meminta pertolongan kepada-Ku dan berpegang erat kepada tali agama-Ku. Dan jika tidak begitu Aku akan menjauhkan diri darimu. Aku sebenarnya tidak memerlukan engkau dan engkaulah yang memerlukan Aku. Aku telah menciptakan dunia ini dan Aku memudahkan di untuk memenuhi keinginanmu, tidak lain supaya engkau bersiap-siap untuk menemui-Ku dan engkau membawa perbekalan darinya agar supaya engkau jangan berpaling dari-Ku dan kekal di atas bumi.

Ketahuilah olehmu, bahwa negeri akhirat itu adalah lebih baik bagimu daripada dunia ini. Oleh sebab itu, janganlah engkau pilih yang lain dari yang telah Aku pilihkan untukmu, dan janganlah engkau benci menemui Aku, karena siapa saja yang benci menemui-Ku, Akupu akan benci menemuinya dan siapa saja yang rindu bertemu dengan-Ku, Aku pun rindu menemuinya.” (Hadits Qudsi)

Sahabat,

Betapa indah janji cinta-Nya. Jauh sekali dari cinta syahwat yang kerap kali kita rasakan ketika melihat seorang berwajah indah di dekat kita. Jauh sekali dari cinta ragawi yang kadangkali lebih banyak menyakiti hati, jiwa dan raga.

Usia kita terbatas, Sahabat

Alangkah merugi jika kita memberikan cinta kita seluruhnya pada seseorang yang tak semestinya.

Cinta manusia yang kamu cinta secara sederhana.

Cinta bunga-bunga yang menawan secara sederhana. Sederhana..

Cinta apapun secara sederhana
Karena masih ada cinta yang teramat istimewa, yakni cinta pada Sang Pemberi CINTA, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Teramat rugi jika kita mengabaikannya…

Semoga kita menjadi pecinta sejati yang cintanya penuh kepada pemberi cinta.

oleh: Izzatul Jannah

dikutip dari buku: Materi Tarbiyah untuk remaja
(
Jurnal Muslimah - Sunday, 25 November 2007

Kafemuslimah.com)

“SEBENARNYA AKU…………………….”

November 5th, 2007 by myftha

"Sebenarnya aku…………………" adalah sebuah kalimat yang belum aku selesaikan.
Entah belum atau tidak akan pernah sama sekali.
"Sebenarnya aku…………………" adalah sebuah kalimat yang bisa berubah, tergantung situasi dan kondisi yang tidak akan pernah lagi sama.
Tentang perasaan, tentang keadaan, tentang kebingungan, dan atau "tentang….. tentang…." yang lain.
Aku hanya bisa terdiam, menyendiri, dan berteriak "sebenarnya aku……….." di dalam hati.
Tapi satu hal yang aku yakini dan itu tak akan pernah bisa berubah: apa yang direncanakanNya dan apa yang digariskanNya.
Sebenarnya aku ingin selalu bersamaNya, apa pun yang diberikanNya, di rencanakanNya, dan digariskanNya, aku yakin itu pasti yang terbaik untukku….

SEMPURNA

October 7th, 2007 by myftha

Kau begitu sempurna
Dimataku Kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujiMu

Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan diriMu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintaMu

Janganlah Kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamaMu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, Kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

Written by Andra Ramadhan

Performmed by Andra and The Backbone

dedicated 4 THE CREATOR Of THE UNIVERSE

White N Light Angel’s Said

September 22nd, 2007 by myftha

If Life happens to deliver a situation to you that you cannot handle, do not attempt to resolve it. Kindly put it in the SFGTD (Something For God to Do) box. All situations will be resolved, but in God Time, not yours.

Once the matter is placed in to the boy, do not hold onto it by worrying about it. Instead, focus on all the wonderful things that are present in your life now.

If you find yourself stuck in traffic; Don’t despair. There are people in this world for whom driving is unheard of privilage.

Should you have a bad day at work?; Think of the man who has been out of work for years.

Should you grieve the passing of another weekend?; Think of the woman in dire straits, working twelve hours a day, seven days a week to feed her children.

Should your car / motorcyle break down, leaving you miles away from assistance?; Think of the paraplegic who would love the opportunity to take that walk.

Should you despair over relationship gone bad?; Think of the person who has never known what it’s like to love and be loved in return.

Should you find yourself at a loss and pondering what is life all about, asking what is god purpose? Be thankful. There are those who didn’t live long enough to get opportunity.

Should you notice a new gray hair in the mirror?; Think of the cancer patient in chemo who wishes she had hair to examine.

Should you find yourself the victim of other peoples’s bitterness, ignorance, smallness or insecurities?; Remember, things could be worse. You could be the one of them!

Thank U So Much for read this, we may have touched our life in ways we will never know… Hopely we can instropection ourself to be a better human… Insyaallah…

About My Feel Last Night

September 21st, 2007 by myftha

….. September 2007

Pukul 02:34 dini hari, aku tak dapat memejamkan mataku. Rasanya begitu berat untuk terlelap. Hhh… harus aku akui, penyebab insomniaku karena…. 1 jam sebelumnya, aku hanya bisa merasakan “sungai-sungai kecil” dari mataku mengalir deras.

Malam ini berlalu dalam kegelisahan tanpa makna. Mungkin “La-Tahzan” bisa membantuku untuk merasa lebih baik. Hingga kemudian, dengan sepenuh hati, aku renungkan temuan yang aku dapatkan. Sebuah rangkaian pesan dari seorang bijak tentang kesedihan yang menawan bahwa kesedihan dicipta sebagai pasangan dari bahagia. Seperti juga dikabarkan Al-Qur’an, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 49). Kesedihan akan mengantarkan manusia pada kekuatan dan kebahagiaan yang mendalam. Seorang James Scott, sang psikiater terkenal, bahkan pernah menyimpulkan betapa jiwa manusia malah menjadi kuat setelah melewati serangkaian kesedihan. Jan Goldstein dalam karyanya yang berjudul Sacred Wounds, berkata bahwa duka cita yang mendalam akan menghasilkan lebih banyak kesucian. Sedangkan Jalaludin Rumi, pernah pula mengemas jalinan kata yang menyejukkan, “Hanya melalui jalan kesedihan, melalui penderitaan yang disertai dengan kesabaran, manusia bisa bertumbuh menjadi laki-laki (baca: manusia) sejati.”

Apa pun wajah mereka, wajah sang rasa, entah duka ataupun cita, mereka hanya meminta kita untuk mensyukurinya. Bersyukur dan bersyukur, bahkan kala kita sedang dilanda duka. Allah menghadirkan semua itu bukan tanpa maksud. Kekuatan di dalam kesedihan itu yang sedang diajarkan-Nya.

Sekuat apa pun aku berusaha, aku tetap tak punya daya. Sama sekali tak kuasa menahan segala rasa (duka ataupun cita) yang menyeruak dalam dada. Ya… karena Engkaulah penggenggam semua rasa itu. Tentu saja, tak Kau hadirkan semua hal yang pernah kualami dengan sia-sia. Ya Allah… Aku tau kini, Kau sedang didik aku dalam sekolah kehidupan yang bernama kesedihan. Hanya satu yang Kau pinta, syukur dan hanya bersyukur. Dengan cara menerimanya sebagai sesuatu yang menawan, walaupun rasa itu adalah “si buruk rupa” (kesedihan). Aku yakin esok pagi, aku bangun dengan keadaan yang lebih tenang dan lebih baik.

BUDAYAKAN ISLAM..

September 4th, 2007 by myftha

Aku jadi teringat, pernah suatu kali, aku berkirim SMS untuk teman SMP-ku. Di dalam sebuah pesan singkatku, aku pernah menyelipkan kata-kata “Af1, su’udzon, jazakallahu khairan, etc…”. Lalu dia bertanya “Sejak kapan kamu berubah? Tapi ga papa, bagus kok, memang seharusnya begitu, budayakan Islam.” Nah lho… kalimat terakhir ini kok bikin aku jadi agak kontra dengan pendapatnya ya… Tapi akhirnya kubalas dengan “Ah… itu khan cuma bahasa…”. Ya memang seperti itu adanya, just a language, no more than that. Mungkin dia berpikir, aku memakai jilbab yang besar. Tapi ternyata nggak tuh. Aku masih seperti yang dulu, dengan jilbab biasaku, he3. Akhirnya aktivitas otakku yang tadinya hanya “diam” jadi “berjalan”.

Budayakan Islam?? Hmm… Sejak kapan ya Islam dijadikan sebuah budaya? Bukannya Islam itu dien? Dien yang di dalamnya penuh dengan ajaran dan ilmu yang yang diperuntukkan untuk umat manusia, khususnya umat Rasulullah SAW? Agar umat manusia selamat di dunia dan di akhirat? Benar begitu khan? Memangnya Islam itu hanya sekedar Arabic language?

Ah… ternyata Arabic language dijadikan sebuah eksklusifitas di kalangan tertentu saja. Kalo orang non-muslim menggunakan bahasa Arab untuk berbicara, boleh ga? Kalo menurutku sih boleh-boleh aja,  namanya juga bahasa. Ya… seperti kita belajar bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Korea, dan lain sebagainya. Padahal negara-negara itu mayoritas penduduknya non-muslim. Ya khan??! Yang beda kan keyakinan dan ajarannya untuk meyakini Sang Pencipta. Kalo bukan termasuk kalangan eksklusif itu, apa juga ga boleh pake bahasa Arab??

Aku pernah baca sebuah buku ada sebuah halaman yang menuliskan (aku kutip sedikit ya…) “Biar Nyambung! Ada kata-kata dalam buku ini yang perlu dijelaskan, kata penerbit. Kalau bisa sekalian saja tuliskan makna kata yang sering dipakai para aktivis Islam yang berinteraksi dengan kita. Kan, kita juga harus belajar jadi aktivis? Ya, agar sejarah hidup kita tak cuma tiga baris di atas nisan, seperti para pasifis. Bukan soal Arab atau bukan Arab. Yang kadang diinginkan adalah suasana yang berbeda dengan dulu, ketika kita masih jahil dan belum mengerti tentang Islam. Makna hijrah, ingin dihidupkan ruhnya di sini. Lagipula Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab. Maka sungguh mulia menggunakan bahasa yang dipilih Allah ini”. Ya… memang ada benarnya juga sih…

Tapi menilik lagi ke belakang kenapa Islam turun di Arab? Aku pernah baca Majalah Nikah edisi Agustus 2004, di salah satu rubriknya, Sejarah Islam. Ternyata karena letak geologis dan geografis serta kondisi internalnya yang hanya dikelilingi oleh gurun dan pasir dari segala sudut menjadikan Jazirah Arab sebuah benteng yang kokoh. Mencegah orang asing masuk untuk menjajahnya. Ini membuat mereka hidup merdeka dan bebas dari segala penjajah. Walaupun saat itu mereka bertetangga dengan dua imperium besar Parsi dan Romawi. Inilah salah satu keistimewaan Jazirah Arab.

Trus ada lagi keutamaan bangsa Arab. Sejak dulu bangsa Arab dikenal sebagai umat berakhlak terbaik, yang merupakan warisan dari sebagian akhlak mulia agama Nabi Ibrahim, walau pun mereka kufur pada banyak syariat. Itulah mengapa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (riwayat Ahmad).

Islam mempertahankan akhlak-akhlak mulia bangsa Arab tersebut seperti sifat dermawan, memuliakan tamu, dan lainnya, lalu menyempurnakannya dengan menghapus akhlak buruk mereka.

Demikianlah Allah memilih kemunculan Islam pada bangsa Arab, tentu itu karena keistimewaan yang dimiliki bangsa Arab dan Jazirahnya tersebut. Allah memilih rasul dari keturunan mereka, sehingga kenabian berasal dari keturunan mereka lalu mereka terpilih sebagai pengemban tugas penyebar risalah Islam yang pertama. Sehingga, keyakinan akan keutamaan mereka merupakan salah satu pokok akidah muslim.

Arab menjadi pengemban risalah Islam kepada sekalian manusia karena mereka memiliki keistimewaan denagn berkumpulnya 4 sifat yang tidak dimiliki umat lain dalam sejarah. Sifat tersebut yaitu kejernihan pikiran, kuat hafalan, peradaban syariat yang sederhana, dan jauh dari pencampuran umat dunia yang lainnya.

Dengan sifat yang pertama, mereka mampu memahami dan menerima agama. Dengan sifat yang kedua mereka mampu menghafalnya dan tidak ada kebimbangan dalam menerima. Dengan sifat ketiga mampu cepat berakhlak dengan akhlaknya karena mereka lebih dekat dengan fithrah yang selamat. Dan dengan sifat yang keempat mampu bergaul dengan seluruh umat manusia, karena tidak ada permusuhan di antara mereka dengan umat lain. Sedangkan perseteruan Arab tidak lain hanya di antra kabilah mereka saja. Berbeda dengan bangsa Parsi dan Romawi.

Lalu tentang keadaan bangsa Arab sekitar abad ke-6 dan ke-7 M, di abad ini bangsa Arab sebagaimana bangsa Ajam (non-Arab) mengalami kegelapan dan kebodohan. Telah tersebar merata pada kehidupan mereka, seperti paganisme (penyebahan berhala), khurafat, fanatisme kebangsaan, rasialisme, dan kesenjangan hidup antara manusia. Mereka hidup dalam kerusakan dan jauh dari kebenaran. Kedaan ini merata kecuali pada sebagian kecil ahli kitab yang masih berpegang teguh pada agama mereka. Itu pun, menjelang kenabian Muhammad hampir habis seluruhnya. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi lalu murka kepada mereka baik Arab atau Ajamnya kecuali sebagian kecil ahli kitab.”

Itulah keadaan bangsa Arab pada saat itu. Dan itu pula di antara alasan Allah SWT menurunkan Islam di sana. Yang jelas ada hikmah besar dalam keputusan Allah SWT tersebut. Sebagian dapat diketahui dan sebagian tidak. Wallahu a’lam.

Nah… udah jelas donk… kenapa Islam turun di Arab?! Bukan hanya sekedar masalah bahasa. Tapi banyak sekali faktor utama yang lain.

So… menurutku, kita jangan terlalu kaku. Kita kan manusia yang dikasih akal, jadi kita harus bisa memilah dan memilih. Mana hal yang universal dan mana hal yang particular. Tapi jangan sampai ‘keblasuk’ juga (kalo ada yang ga tau bahasa Jawa. Keblasuk = kesasar. Maksudnya sih terjerumus). Deal?? He3.

Kalo temen SMP-ku baca tulisan-ku kali ini, dia pasti comment “Ah… Cuma masalah akhiran -kan aja. Gitu aja kok repot…”. Eh… Jangan salah… mengabaikan hal yang kecil itu, bisa saja fatal akibatnya. Iya to??? Bener apa ga??? Hi3, jadi ga enak nich sama dia.. :p

Buat temenku, maaf ya… he3. Aku ini emang “ga bisa diem”, cuma karena akhiran -kan aja dipersoalkan atau dikritisi. Tapi kan ga papa. Malah bagus to… Walah… kok aku muji diri sendiri, he3. Buat temen-temenku yang lain yang udah baca, kasih comment-nya dunk… Aku menerima segala kritik dan saran lho… Wes yo… C U Next…

GA MAU ‘PACARAN’ TAPI CLOSE FRIEND, IN A RELATIONSHIP, HUBUNGAN TANPA STATUS orTEMAN TAPI MESRA. Apa Beda-nya ya??

September 4th, 2007 by myftha

04 September 2007

 

Pagi hari setelah aku mengajar, tiba-tiba
aku berkeinginan untuk berkunjung ke rumah Mbak Siti, sahabatku sejak SMU.
Walaupun dia sudah menikah, curhat-curhatan pun masih tetap berjalan. Kita kan
perempuan.. Jadi butuh sharing eachother, gitu lho… he3. Tak lupa ku
kukirimkan sms dan mengutarakan niatku untuk bertandang ke rumahnya. Sms
balasan pun tiba, dan isinya mengatakan “Ok, main aja ke sini say… Aku tunggu
ya… Aku lagi ga ngajar kok hari ini.
Aku juga sendirian di rumah, suamiku lagi ngajar. Aku juga kangen sama kamu,
lama ga curhat-curhatan ma kamu ni…”. Alhamdulillah… Sesampainya di sana,
seperti biasa, sambutan hangatnya selalu membuatku merasa nyaman…
J. Setelah ngobrol lama,
ngalor-ngidul, curhat-curhatan n sharing, mataku tertuju pada salah satu
majalah Ummi edisi September 2006 miliknya. Ada bahasan yang menarik untuk ku
baca: “Jerat Baru Bernama Hubungan Tanpa Status”. Ih, apaan nich, kayaknya
penasaran juga untuk tau lebih dalam. Jadi inget lagunya Ratu, Teman Tapi
Mesra, itu lho…he3. Di situ tertulis “Hubungan tanpa status adalah fenomena pergaulan
baru yang mewabah hingga menyentuh anak-anak muda kader dakwah. Mengaku tidak
pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi. Dalam rapat
organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah
itu sendiri. Jalannya? Ya, macam-macam. Pertemuan yang ‘tak’ sengaja,
keperluan-keperluan yang terencana, telepon, sms, email, hingga chatting untuk
bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal
pribadi”. Wah… semakin serius saja aku membacanya. Lanjutin lagi ah…
“Menanggapi fenomena maraknya HTS di kalangan anak muda aktivitis dakwah, atau aktivis yang sudah kenal tarbiyah,
Hilmi Wahdi, Psi, mencoba merunutkan persoalan dari akarnya.

Pada dasarnya, memasuki usia remaja
hormon-hormon seksual memang berkembang, sehingga sensitivitas setiap manusia,
terhadap lawan jenis pun berkembang pesat. Maka wajarlah bila seorang laki-laki
akan tertarik pada perempuan dan begitu pula sebaliknya. Namun, membicarakan
soal implementasi rasa suka dan ketertarikan ini, yang di dalamnya terkait erat
masalah budaya dan nilai-nilai, tentu akan banyak perbedaan antara satu
kelompok manusia dengan manusia lainnya.

Makanya, meski secara fisik manusia
memiliki kesamaan kecenderungan nafsu, namun implementasinya tergantung sekali
pada lingkungan. Sebab lingkunganlah yang akan membentuk manusia akan menjadi
apa dalam menjalani hidupnya.

Bagi umat Islam, implementasi rasa
suka dan ketertarikan antara dua insan berbeda jenis ini tentu ditata berdasarkan nilai-nilai Islam pula. Semangatnya
satu: mensucikan jiwa dan mengokohkan kehidupan yang aman, tentram dan damai,
dengan bersumber dari kepatuhan kepada Allah dan RasulNya.

(Dan seterusnya….)”

Di situ juga ada beberapa kisah dan
penuturan orang-orang yang ber-HTS.

Kisah 1: (Akhwat, 21 tahun,
mahasiswa di Jakarta)

 Kami
Tak Ingin Disebut ‘Pacaran’

“Saya paham bahwa dalam Islam kita
harus menjaga pandangan dan tidak boleh bersentuhan. Namun, dalam kondisi
tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang
berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi
berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya saya lega.
Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling
telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti,
kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar
hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi
masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang
meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun
tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan
tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya sebagai penjahat di antara orang-orang
baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan,
diajak bicara, dan sang ikhwan pun menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf
versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan
teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun
kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara
kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami,
saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami hanya berteman karena statusnya
memang tidak ada.”

 

Kisah 2: (Ikhwan, mahasiswa di
Depok)

Rencana Menikah Tiga Tahun Lagi

“Saya ketemu dia di senat. Awalnya
sih nggak ada motivasi yang jelas. Waktu itu dia sedang ada masalah kemudian
dia menambatkan ke saya. Akhirnya, seiring waktu, saya merasa bertambah dekat.

Di mata dia, saya ini adalah orang
yang bisa memimpin dia dan kalau menyampaikan sesuatu tidak kaku. Akhirnya dia
merasa, inilah yang dia cari. Tapi ketika hubungan ini dijalani, saya merasa
nyaman. Saya juga merasa dihargai atas pilihan ini.

Saya masih tetap ikut liqo, dan
saya percaya selama tidak berhenti mencari, hidayah akan datang. Tapi ada
sejumlah hal yang belum bisa saya kompromikan; saya ngaji, tapi suka nonton,
main PS (playstasion), kenalan dengan orang, tebar pesona. Mungkin orang
melihatnya, ikhwan kok kayak gini? Tapi saya jadi merasa seperti dihimpit dari
mana-mana. Siapa saya, jati diri saya, identitas saya? Pergolakan batin, tentu
ada. Bahkan saya sempat ingin keluar dari tarbiyah. Tapi pada akhirnya saya
berkesimpulan bahwa saya masih berproses, dan buat saya apa yang saya jalani
ini adalah bagian dari proses saya.

Saya ga mau menyebut ini pacaran.
In a relationship, mungkin tepatnya. Biasanya kami SMS-an, telepon berjam-jam,
ngobrol, main ke rumah. Kalau di kampus saling bantu kerjaan, nonton satu-dua
kali, makan, jalan, dengan intensitas yang jarang. Dia memanggil saya “Mas”,
saya panggil dia “Adek”. Kami bilang sayang, cinta, I love you, ya begitulah.

Saya sudah berhubunagn selama 2
bulan, dan menurut saya ini sudah sangat serius. Saya juga kenal keluarganya.
Rencana ke pernikahan jelas ada, yaaa… mungkin 3 tahun lagi deh. Kalau bicara
soal putus, jadi agak aneh juga, sebab sewaktu dia puus dengan cowoknya dulu,
itu ketika dia berubah jadi lebih baik, tidak diikuti oleh cowoknya. Makanya
saya merasa, saya harus mengarahkan, baiknya begini, seharusna begini, begitu.

Saya bilang, kita lanjutkan saja,
dan siap dengan apapun hasilnya nanti. Yang penting saling mengikhlaskan satu
sama lain, jangan jadi halangan untuk masing-masing. Jadi kalau pun kita putus,
kita sudah siap, karena hubungan ini memang dibangun dengan banyak kompromi.”

 

Kisah 3 : (Akhwat, 20 tahun,
mahasiswi di Jakarta)

Hanya Untuk Bersenang-senang

“Sebagai seorang Akhwat, aku dekat
dengan lingkungan yang memahami ajaran Islam. Namun, kadang aku jenuh dengan
aktivitasku dan membutuhkan tempat untuk menumpahkan isi hati. Aku sangat
berharap teman-teman akhwatku dapat membantu. Tapi , mereka sangat sibuk dan
tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Mulailah aku menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Kami
tidak berpacaran, karena hal itu memang dilarang Islam. Namun, aku juga memiliki
kebutuhan akan pemenuhan perasaan yang kumiliki. Hubungan ini pun kujalani
hingga akhirnya aku merasa memiliki dan tergantung padanya.

Dia adalah kakak kelasku di SMA dan
ketika aku kuliah banyak memberikan informasi mengenai kehidupan kampus. Meski
kami tinggal di kota yang berbeda, kami tetap berkirim SMS dan telepon. Ketika
masa libur tiba, kami selalu bertemu di kota asal kami.

Bersama teman-teman, kami
menghabiskan liburan bersama, mulai dari mengunjungi sekolah, pergi ke mal,
atau ke pantai. Tapi, semua itu kami lakukan masih dengan menjaga adab-adab
pergaulan menurt Islam. Tidak berduaan dan tidak bersentuhan. Namun, kami tetap
tidak bisa menjaga hati kami.

Aku menjalani ini hanya untuk
senang-senang saja. Belum terpikir untuk melangkah ke hubungan yang lebih
lanjut karena kami masih terlalu muda. Hanya saja, yang saja, yang membuat aku
meneruskan hubungan ini adalah cara kami yang memasukkan unsur-unsur ibadah
dalam hubungan ini. Kami membicarakan dakwah dan rekruitmennya, saling memberi
tausiyah, bahkan mengingatkan untuk shalat wajib mau pun tahajud. Itulah yang
membuat kami merasa hubungan ini benar adanya.

Banyak pihak telah
memperingatkanku. Bahkan beberapa teman mengancamku melaporkan kepada ngaji.
Namun, di saat perasaan sayang itu muncul, aku pun kebal dengan
peringatan-peringatan. Lalu akhirnya, jalan HTS pun tetap kupilih karena
terlihat lebih mudah bagiku.”

 

Kisah 4: (Akhwat, 24 tahun,
mahasiswi di Jakarta)

Hampir Setiap Hari Menelepon

Cerita saya bermula di bulan
Ramadhan. Kala itu, saya membutuhkan pengisi acara untuk buka puasa bersama
anak yatim yang diadakan BEM kampus. Akhirnya, salah seorang teman memberikan
nomor kontak seorang ikhwan. Namun, di hari H, ikhwan itu tidak hadir karena
sakit. Ia pun meminta maaf lewat SMS. Saya menanggapinya biasa saja, sebab
sakit kan datangnya tanpa diundang.

Beberapa waktu kemudian, ia
mengontak untuk menanyakan kabar teman saya yang mengenalkan saya padanya. Tak
dinyana, sejak itu ia terus mengontak saya via SMS. Awalnya SMS yang ia
kirimkan biasa-biasa saja. Namun lama-kelamaan, intensitasya meningkatkan dan
melebihi kadar kebiasaan. Isinya pun
kebanyakan hal yang tidak penting. (coba dari hal yang tidak penting ke hal
yang penting-penting aja, jarang banget kan…he3, my comment).
Saya selalu
membalas SMS-nya, karena saya orangnya nggak enakan. Apalagi, saat itu bulan
puasa dan terawih, juga membangunkan saya untuk makan sahur.

Kemudian ia mulai menanyakan boleh
tidak kalau menelepon, karena lebih leluasa dibanding SMS. Awalnya saya tolak.
Saya takut ini akan melebar kemana-mna. Tapi akhirnya saya iyakan, karena
lagi-lagi saya merasa nggak enak. Hampir setiap hari ia menelepon. Kalau dia
nggak menelepon, saya yang meneleponnya. Dalam SMS-nya kadang ia menyelipkan
kata-kata “I Miss You” atau menyapa dengan “hai Say!”.

Kami juga cepat nyambung karena dia
tipe senang bercerita dan saya pendengar yang baik. Jadi Klop. Seiring waktu,
rasa suka terhadap dia pun mulai tumbuh. Padahal, belum sekalipun saya bertemu
muka dengannya.

Saya merasa senang dengan hubungan
ini, karena saya merasa ada yang memperhatikan. Saya terlena. Saya tahu ini
tidak boleh. Tapi saya seperti mendapat pembenaran karena ia telah lebih dahulu
mengaji dibanding saya. Hubungan kami seperti orang pacaran. Bedanya ada
atribut ikhwan dan akhwat yang melekat pada kami, dan sama-sama tahu bagaimana
adab bergaul dalam Islam. Alhamdulillah… itu semua sudah berlalu.”

 

Kisah 5 : (Akhwat, 25 tahun, fresh
graduate dari Semarang)

Berharap Bisa Menikah dengan Dia

“Saya menjalin hubungan dengan ikhwan
X ketika sama-sama sudah tarbiyah, di kampus dulu, kira-kira 4 tahun yang lalu.
Awalnya saya dan dia curhat mengenai masalah yang sama-sama kami rasakan dalam
tarbiyah. Lama-kelamaan , mengalir begitu saja. Mungkin karena dia lebih tua,
saya pikir saya bisa menjadikan dia seperti kakak. Tapi malah bablas….

Kami sering berkomunikasi lewat sms
dan telepon. kalau ada masalah, saya curhat ke dia, karena saya menganggap dia
seperti kakak sendiri. Kalau butuh apa-apa saya ke dia. Dibanding dia, saya
lebih banyak curhat. Dan saya selalu enjoy dengan solusi yang diberikannya.
Selain itu, dia juga care.

Kadang dia bilang di SMS-nya, “Met
kerja, Say!” tapi itu baru di tahun ini, sebelumnya tidak pernah begitu. Kalau
saya memanggil dia dengan “Mas” atau “Kakakku yang ganteng.”

Saya akui saya ada ‘rasa’ sama dia.
Dia pun saya nilai begitu juga. Namun kita sama-sama memberi kebebasan kalau
mau ta’aruf dengan ihwan atau akhwat
lain. Setiap masing-masing kami bertaaruf kami saling memberi tahu. Tapi sampai
sekarang, belum menemukan yang cocok. Saya juga pernah coba pancing dia dengan
ngomong, lebih baik kita menikah. Tapi dia selalu cari lasan, dan bilang, ya
kita jalani dulu saja.

Dulu saya pernah ta’aruf sama
ikhwan lain, hampir mau nikah. Tapi nggak jadi karena saya sudah terlanjur
bergantung sama X. Setiap saya ta’aruf dengan ikhwan lain, saya suka
membanding-bandingkannya dengan X. Saya juga jadi ragu untuk melanjutkan ke
pernikahan. Kalau misalnya jadi, kasihan suami saya kalau dia tahu saya punya
TTM (Teman Tapi Mesra).

Saya ingin meng-cut hubungan ini
dengan mencoba ‘menghilang’ dari dia, sama sekali tidak ada komunikasi. Tapi
itu hanya bertahan satu minggu.

Saya berharap hubungan yang sudah
sekian lama terjalin ini nggak sia-sia dan kami akan menikah. Tapi kalau memang
belum bisa menikah dengan dia, saya ingin dia yang meng-cut. Saya nggak bisa
bilang kalau dia bukan jodoh saya. Karena jodoh atau bukan kan kita tahu kalau
sudah ada usaha. Sedang dia kan belum usaha.

Kalau misalnya dia menikah dengan
akhwat lain, mungkin saya sedih beberapa hari saja (belum tau dia, patah hati tu sakit banget, bisa lama sembuhnya…,he3).
Memang bukan jodoh, dan saya membuka hati untuk calon suami saya. Tapi, saya
belum yakin, apakah saya bisa melakukan itu.”

Fuuh… akhirnya selesai juga aku
membaca. Commentku cuma “O…. Ternyata ada juga ya yang begitu….”. Masalah
hati lagi… bener-bener dech, hal ini bisa membuat orang jadi ga tenang dengan
harapan, angan, dan impian yang entah dapat terealisasikan atau tidak. Aku pun
pernah merasakannya dengan seseorang yang hubungan statusnya jelas. Bedanya,
aku cuma cewek biasa yang memakai jilbab biasa pula. Bukan akhwat, apalagi
aktivis dakwah. Yah.. pokoknya aku ini cewek yang biasa-biasa aja deh…he3.
Tapi aku ingin merubah pola-ku untuk masalah yang satu ini. Tapi sama aja, ada
status ga ada status, rasanya sakit banget ketika harapan itu tumbuh tapi tidak
dapat terealisasikan. Apalagi sampe bertahun-tahun. Mungkin untuk sebagian
orang itu merupakan salah satu bentuk usaha untuk mendapatkan jodoh kali
ya…he3. Ga tau juga dech… Terserah mereka aja, toh yang tau baik buruknya
juga mereka, konsekuensinya juga mereka yang tanggung sendiri. Aku pun tak
berani berkomentar lebih jauh lagi… Lebih baik urus diri sendiri saja yang
masih harus lebih banyak belajar untuk lebih baik lagi. Beribadah dan berakhlak
dengan baik. Belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain saja
masih berat. Belum lagi menahan amarah dan emosi negatif lainnya, belajar untuk
bersabar, dan belajar untuk selalu bersedekah, melatih pola hidup bersih, menjaga
hati dan belajar yang lainnya. Walaupun mungkin untuk sebagian orang hal yang
kupelajari adalah hal yang kecil, seperti berbicara jujur, belajar pola hidup
bersih, bersabar, ikhlas, bersedekah walaupun sedikit dan hal-hal kecil yang
lainnya, bukan jihad atau apa pun itu yang tingkatannya sudah lebih tinggi dari
ini, tapi hal-hal kecil itulah yang justru dampaknya begitu besar untukku. Ya Allah… begitu banyak ilmu yang Engkau
turunkan pada kami umat manusia. Tapi ternyata kami tidak / belum bisa
mengamalkan dan menjalankannya dengan baik dan benar. Padahal waktu kami di
dunia ini cuma sebentar. Ya Allah… aku ingin kembali padamu dalam keadaan
husnul khotimah….