04 September 2007
Pagi hari setelah aku mengajar, tiba-tiba
aku berkeinginan untuk berkunjung ke rumah Mbak Siti, sahabatku sejak SMU.
Walaupun dia sudah menikah, curhat-curhatan pun masih tetap berjalan. Kita kan
perempuan.. Jadi butuh sharing eachother, gitu lho… he3. Tak lupa ku
kukirimkan sms dan mengutarakan niatku untuk bertandang ke rumahnya. Sms
balasan pun tiba, dan isinya mengatakan “Ok, main aja ke sini say… Aku tunggu
ya… Aku lagi ga ngajar kok hari ini.
Aku juga sendirian di rumah, suamiku lagi ngajar. Aku juga kangen sama kamu,
lama ga curhat-curhatan ma kamu ni…”. Alhamdulillah… Sesampainya di sana,
seperti biasa, sambutan hangatnya selalu membuatku merasa nyaman…J. Setelah ngobrol lama,
ngalor-ngidul, curhat-curhatan n sharing, mataku tertuju pada salah satu
majalah Ummi edisi September 2006 miliknya. Ada bahasan yang menarik untuk ku
baca: “Jerat Baru Bernama Hubungan Tanpa Status”. Ih, apaan nich, kayaknya
penasaran juga untuk tau lebih dalam. Jadi inget lagunya Ratu, Teman Tapi
Mesra, itu lho…he3. Di situ tertulis “Hubungan tanpa status adalah fenomena pergaulan
baru yang mewabah hingga menyentuh anak-anak muda kader dakwah. Mengaku tidak
pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi. Dalam rapat
organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah
itu sendiri. Jalannya? Ya, macam-macam. Pertemuan yang ‘tak’ sengaja,
keperluan-keperluan yang terencana, telepon, sms, email, hingga chatting untuk
bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal
pribadi”. Wah… semakin serius saja aku membacanya. Lanjutin lagi ah…
“Menanggapi fenomena maraknya HTS di kalangan anak muda aktivitis dakwah, atau aktivis yang sudah kenal tarbiyah,
Hilmi Wahdi, Psi, mencoba merunutkan persoalan dari akarnya.
Pada dasarnya, memasuki usia remaja
hormon-hormon seksual memang berkembang, sehingga sensitivitas setiap manusia,
terhadap lawan jenis pun berkembang pesat. Maka wajarlah bila seorang laki-laki
akan tertarik pada perempuan dan begitu pula sebaliknya. Namun, membicarakan
soal implementasi rasa suka dan ketertarikan ini, yang di dalamnya terkait erat
masalah budaya dan nilai-nilai, tentu akan banyak perbedaan antara satu
kelompok manusia dengan manusia lainnya.
Makanya, meski secara fisik manusia
memiliki kesamaan kecenderungan nafsu, namun implementasinya tergantung sekali
pada lingkungan. Sebab lingkunganlah yang akan membentuk manusia akan menjadi
apa dalam menjalani hidupnya.
Bagi umat Islam, implementasi rasa
suka dan ketertarikan antara dua insan berbeda jenis ini tentu ditata berdasarkan nilai-nilai Islam pula. Semangatnya
satu: mensucikan jiwa dan mengokohkan kehidupan yang aman, tentram dan damai,
dengan bersumber dari kepatuhan kepada Allah dan RasulNya.
(Dan seterusnya….)”
Di situ juga ada beberapa kisah dan
penuturan orang-orang yang ber-HTS.
Kisah 1: (Akhwat, 21 tahun,
mahasiswa di Jakarta)
Kami
Tak Ingin Disebut ‘Pacaran’
“Saya paham bahwa dalam Islam kita
harus menjaga pandangan dan tidak boleh bersentuhan. Namun, dalam kondisi
tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang
berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi
berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya saya lega.
Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling
telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti,
kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar
hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi
masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang
meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun
tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan
tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya sebagai penjahat di antara orang-orang
baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan,
diajak bicara, dan sang ikhwan pun menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf
versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan
teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun
kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara
kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami,
saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami hanya berteman karena statusnya
memang tidak ada.”
Kisah 2: (Ikhwan, mahasiswa di
Depok)
Rencana Menikah Tiga Tahun Lagi
“Saya ketemu dia di senat. Awalnya
sih nggak ada motivasi yang jelas. Waktu itu dia sedang ada masalah kemudian
dia menambatkan ke saya. Akhirnya, seiring waktu, saya merasa bertambah dekat.
Di mata dia, saya ini adalah orang
yang bisa memimpin dia dan kalau menyampaikan sesuatu tidak kaku. Akhirnya dia
merasa, inilah yang dia cari. Tapi ketika hubungan ini dijalani, saya merasa
nyaman. Saya juga merasa dihargai atas pilihan ini.
Saya masih tetap ikut liqo, dan
saya percaya selama tidak berhenti mencari, hidayah akan datang. Tapi ada
sejumlah hal yang belum bisa saya kompromikan; saya ngaji, tapi suka nonton,
main PS (playstasion), kenalan dengan orang, tebar pesona. Mungkin orang
melihatnya, ikhwan kok kayak gini? Tapi saya jadi merasa seperti dihimpit dari
mana-mana. Siapa saya, jati diri saya, identitas saya? Pergolakan batin, tentu
ada. Bahkan saya sempat ingin keluar dari tarbiyah. Tapi pada akhirnya saya
berkesimpulan bahwa saya masih berproses, dan buat saya apa yang saya jalani
ini adalah bagian dari proses saya.
Saya ga mau menyebut ini pacaran.
In a relationship, mungkin tepatnya. Biasanya kami SMS-an, telepon berjam-jam,
ngobrol, main ke rumah. Kalau di kampus saling bantu kerjaan, nonton satu-dua
kali, makan, jalan, dengan intensitas yang jarang. Dia memanggil saya “Mas”,
saya panggil dia “Adek”. Kami bilang sayang, cinta, I love you, ya begitulah.
Saya sudah berhubunagn selama 2
bulan, dan menurut saya ini sudah sangat serius. Saya juga kenal keluarganya.
Rencana ke pernikahan jelas ada, yaaa… mungkin 3 tahun lagi deh. Kalau bicara
soal putus, jadi agak aneh juga, sebab sewaktu dia puus dengan cowoknya dulu,
itu ketika dia berubah jadi lebih baik, tidak diikuti oleh cowoknya. Makanya
saya merasa, saya harus mengarahkan, baiknya begini, seharusna begini, begitu.
Saya bilang, kita lanjutkan saja,
dan siap dengan apapun hasilnya nanti. Yang penting saling mengikhlaskan satu
sama lain, jangan jadi halangan untuk masing-masing. Jadi kalau pun kita putus,
kita sudah siap, karena hubungan ini memang dibangun dengan banyak kompromi.”
Kisah 3 : (Akhwat, 20 tahun,
mahasiswi di Jakarta)
Hanya Untuk Bersenang-senang
“Sebagai seorang Akhwat, aku dekat
dengan lingkungan yang memahami ajaran Islam. Namun, kadang aku jenuh dengan
aktivitasku dan membutuhkan tempat untuk menumpahkan isi hati. Aku sangat
berharap teman-teman akhwatku dapat membantu. Tapi , mereka sangat sibuk dan
tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Mulailah aku menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Kami
tidak berpacaran, karena hal itu memang dilarang Islam. Namun, aku juga memiliki
kebutuhan akan pemenuhan perasaan yang kumiliki. Hubungan ini pun kujalani
hingga akhirnya aku merasa memiliki dan tergantung padanya.
Dia adalah kakak kelasku di SMA dan
ketika aku kuliah banyak memberikan informasi mengenai kehidupan kampus. Meski
kami tinggal di kota yang berbeda, kami tetap berkirim SMS dan telepon. Ketika
masa libur tiba, kami selalu bertemu di kota asal kami.
Bersama teman-teman, kami
menghabiskan liburan bersama, mulai dari mengunjungi sekolah, pergi ke mal,
atau ke pantai. Tapi, semua itu kami lakukan masih dengan menjaga adab-adab
pergaulan menurt Islam. Tidak berduaan dan tidak bersentuhan. Namun, kami tetap
tidak bisa menjaga hati kami.
Aku menjalani ini hanya untuk
senang-senang saja. Belum terpikir untuk melangkah ke hubungan yang lebih
lanjut karena kami masih terlalu muda. Hanya saja, yang saja, yang membuat aku
meneruskan hubungan ini adalah cara kami yang memasukkan unsur-unsur ibadah
dalam hubungan ini. Kami membicarakan dakwah dan rekruitmennya, saling memberi
tausiyah, bahkan mengingatkan untuk shalat wajib mau pun tahajud. Itulah yang
membuat kami merasa hubungan ini benar adanya.
Banyak pihak telah
memperingatkanku. Bahkan beberapa teman mengancamku melaporkan kepada ngaji.
Namun, di saat perasaan sayang itu muncul, aku pun kebal dengan
peringatan-peringatan. Lalu akhirnya, jalan HTS pun tetap kupilih karena
terlihat lebih mudah bagiku.”
Kisah 4: (Akhwat, 24 tahun,
mahasiswi di Jakarta)
Hampir Setiap Hari Menelepon
Cerita saya bermula di bulan
Ramadhan. Kala itu, saya membutuhkan pengisi acara untuk buka puasa bersama
anak yatim yang diadakan BEM kampus. Akhirnya, salah seorang teman memberikan
nomor kontak seorang ikhwan. Namun, di hari H, ikhwan itu tidak hadir karena
sakit. Ia pun meminta maaf lewat SMS. Saya menanggapinya biasa saja, sebab
sakit kan datangnya tanpa diundang.
Beberapa waktu kemudian, ia
mengontak untuk menanyakan kabar teman saya yang mengenalkan saya padanya. Tak
dinyana, sejak itu ia terus mengontak saya via SMS. Awalnya SMS yang ia
kirimkan biasa-biasa saja. Namun lama-kelamaan, intensitasya meningkatkan dan
melebihi kadar kebiasaan. Isinya pun
kebanyakan hal yang tidak penting. (coba dari hal yang tidak penting ke hal
yang penting-penting aja, jarang banget kan…he3, my comment). Saya selalu
membalas SMS-nya, karena saya orangnya nggak enakan. Apalagi, saat itu bulan
puasa dan terawih, juga membangunkan saya untuk makan sahur.
Kemudian ia mulai menanyakan boleh
tidak kalau menelepon, karena lebih leluasa dibanding SMS. Awalnya saya tolak.
Saya takut ini akan melebar kemana-mna. Tapi akhirnya saya iyakan, karena
lagi-lagi saya merasa nggak enak. Hampir setiap hari ia menelepon. Kalau dia
nggak menelepon, saya yang meneleponnya. Dalam SMS-nya kadang ia menyelipkan
kata-kata “I Miss You” atau menyapa dengan “hai Say!”.
Kami juga cepat nyambung karena dia
tipe senang bercerita dan saya pendengar yang baik. Jadi Klop. Seiring waktu,
rasa suka terhadap dia pun mulai tumbuh. Padahal, belum sekalipun saya bertemu
muka dengannya.
Saya merasa senang dengan hubungan
ini, karena saya merasa ada yang memperhatikan. Saya terlena. Saya tahu ini
tidak boleh. Tapi saya seperti mendapat pembenaran karena ia telah lebih dahulu
mengaji dibanding saya. Hubungan kami seperti orang pacaran. Bedanya ada
atribut ikhwan dan akhwat yang melekat pada kami, dan sama-sama tahu bagaimana
adab bergaul dalam Islam. Alhamdulillah… itu semua sudah berlalu.”
Kisah 5 : (Akhwat, 25 tahun, fresh
graduate dari Semarang)
Berharap Bisa Menikah dengan Dia
“Saya menjalin hubungan dengan ikhwan
X ketika sama-sama sudah tarbiyah, di kampus dulu, kira-kira 4 tahun yang lalu.
Awalnya saya dan dia curhat mengenai masalah yang sama-sama kami rasakan dalam
tarbiyah. Lama-kelamaan , mengalir begitu saja. Mungkin karena dia lebih tua,
saya pikir saya bisa menjadikan dia seperti kakak. Tapi malah bablas….
Kami sering berkomunikasi lewat sms
dan telepon. kalau ada masalah, saya curhat ke dia, karena saya menganggap dia
seperti kakak sendiri. Kalau butuh apa-apa saya ke dia. Dibanding dia, saya
lebih banyak curhat. Dan saya selalu enjoy dengan solusi yang diberikannya.
Selain itu, dia juga care.
Kadang dia bilang di SMS-nya, “Met
kerja, Say!” tapi itu baru di tahun ini, sebelumnya tidak pernah begitu. Kalau
saya memanggil dia dengan “Mas” atau “Kakakku yang ganteng.”
Saya akui saya ada ‘rasa’ sama dia.
Dia pun saya nilai begitu juga. Namun kita sama-sama memberi kebebasan kalau
mau ta’aruf dengan ihwan atau akhwat
lain. Setiap masing-masing kami bertaaruf kami saling memberi tahu. Tapi sampai
sekarang, belum menemukan yang cocok. Saya juga pernah coba pancing dia dengan
ngomong, lebih baik kita menikah. Tapi dia selalu cari lasan, dan bilang, ya
kita jalani dulu saja.
Dulu saya pernah ta’aruf sama
ikhwan lain, hampir mau nikah. Tapi nggak jadi karena saya sudah terlanjur
bergantung sama X. Setiap saya ta’aruf dengan ikhwan lain, saya suka
membanding-bandingkannya dengan X. Saya juga jadi ragu untuk melanjutkan ke
pernikahan. Kalau misalnya jadi, kasihan suami saya kalau dia tahu saya punya
TTM (Teman Tapi Mesra).
Saya ingin meng-cut hubungan ini
dengan mencoba ‘menghilang’ dari dia, sama sekali tidak ada komunikasi. Tapi
itu hanya bertahan satu minggu.
Saya berharap hubungan yang sudah
sekian lama terjalin ini nggak sia-sia dan kami akan menikah. Tapi kalau memang
belum bisa menikah dengan dia, saya ingin dia yang meng-cut. Saya nggak bisa
bilang kalau dia bukan jodoh saya. Karena jodoh atau bukan kan kita tahu kalau
sudah ada usaha. Sedang dia kan belum usaha.
Kalau misalnya dia menikah dengan
akhwat lain, mungkin saya sedih beberapa hari saja (belum tau dia, patah hati tu sakit banget, bisa lama sembuhnya…,he3).
Memang bukan jodoh, dan saya membuka hati untuk calon suami saya. Tapi, saya
belum yakin, apakah saya bisa melakukan itu.”
Fuuh… akhirnya selesai juga aku
membaca. Commentku cuma “O…. Ternyata ada juga ya yang begitu….”. Masalah
hati lagi… bener-bener dech, hal ini bisa membuat orang jadi ga tenang dengan
harapan, angan, dan impian yang entah dapat terealisasikan atau tidak. Aku pun
pernah merasakannya dengan seseorang yang hubungan statusnya jelas. Bedanya,
aku cuma cewek biasa yang memakai jilbab biasa pula. Bukan akhwat, apalagi
aktivis dakwah. Yah.. pokoknya aku ini cewek yang biasa-biasa aja deh…he3.
Tapi aku ingin merubah pola-ku untuk masalah yang satu ini. Tapi sama aja, ada
status ga ada status, rasanya sakit banget ketika harapan itu tumbuh tapi tidak
dapat terealisasikan. Apalagi sampe bertahun-tahun. Mungkin untuk sebagian
orang itu merupakan salah satu bentuk usaha untuk mendapatkan jodoh kali
ya…he3. Ga tau juga dech… Terserah mereka aja, toh yang tau baik buruknya
juga mereka, konsekuensinya juga mereka yang tanggung sendiri. Aku pun tak
berani berkomentar lebih jauh lagi… Lebih baik urus diri sendiri saja yang
masih harus lebih banyak belajar untuk lebih baik lagi. Beribadah dan berakhlak
dengan baik. Belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain saja
masih berat. Belum lagi menahan amarah dan emosi negatif lainnya, belajar untuk
bersabar, dan belajar untuk selalu bersedekah, melatih pola hidup bersih, menjaga
hati dan belajar yang lainnya. Walaupun mungkin untuk sebagian orang hal yang
kupelajari adalah hal yang kecil, seperti berbicara jujur, belajar pola hidup
bersih, bersabar, ikhlas, bersedekah walaupun sedikit dan hal-hal kecil yang
lainnya, bukan jihad atau apa pun itu yang tingkatannya sudah lebih tinggi dari
ini, tapi hal-hal kecil itulah yang justru dampaknya begitu besar untukku. Ya Allah… begitu banyak ilmu yang Engkau
turunkan pada kami umat manusia. Tapi ternyata kami tidak / belum bisa
mengamalkan dan menjalankannya dengan baik dan benar. Padahal waktu kami di
dunia ini cuma sebentar. Ya Allah… aku ingin kembali padamu dalam keadaan
husnul khotimah….